Wednesday, October 16, 2013

DIGITAL SPEECH CODING


Speech dalam bahasa Indonesia merupakan suara yang langsung berasal dari manusia. Speech berbeda dengan audio. Audio merupakan suara yang sudah mengalami suatu proses kompresi ataupun perubahan kualitas dari sumber suara yang kemudian diperdengarkan kembali dalam berbagai format untuk berbagai kepentingan, misalnya sebagai alat peraga. Speech atau suara yang dihasilkan oleh sumber suara (suara manusia) banyak yang kemudian diproses lebih lanjut untuk dijadikan sebagai audio. Saat perubahan sumber suara ke dalam bentuk audio terjadi banyak proses di dalamnya, sebagai contoh suatu sumber suara dapat dikonversi menjadi sinyal elektrik, misalnya melalui microphone.

Tidak hanya pada proses pengolahan sumber suara, pada proses mendengarkan terdapat banyak factor yang mempengaruhi seseorang dalam mendengarkan sumber suara / speech maupun suara dalam bentuk audio. Secara sederhana, sebagai contoh pada umumnya manusia sering mendapati adanya suatu perbedaan antara suara yang didengarkan secara langsung di saat dirinya sendiri sedang berbicara dengan dibandingkan mendengarkan suara yang sama jika direkam (mendengarkan rekaman suara diri sendiri). Contoh lain, jika kita merekam suatu sumber suara dengan menggunakan berbagai macam alat perkem yang berbeda – beda, kemungkinan kita akan mendapatkan hasil yang berbeda pada setiap hasil rekaman dikarenakan adanya perbedaan teknik dan bentuk kompresi pada alat perekam. Hasil kompresi dari masing – masing alat ini yang mempengaruhi kualitas dari suara yang dihasilkan.

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengubahan suara untuk dapat didengarkan kembali:
·         Bitrate, berada pada cakupan tertentu (800bps – 16kbps) 
·         Delay, semakin rendahnya nilai bitrate maka akan mungkin semakin terjadi suatu delay
·         Kualitas, kualitas suara yang dihasilkan oleh suatu sumber suara, sebelum dan sesudah direkonstruksi
·         Kompleksitas

Proses pengolahan suatu sumber suara, merupakan pengubahan sinyal analog menjadi digital, biasanya dilakukan dengan memanfaatkan metode kompresi yang biasanya proses ini akan menyebabkan penurunan kualitas dari suara asli dengan suara yang dihasilkan setelah proses kompresi.

Dalam suatu proses kompresi (pengolahan suatu sumber suara), pasti akan terjadi suatu pemotongan frame – frame dari suatu sumber suara asli, di mana proses pemotongan yang menyebabkan hilangnya kurang lebih 8 kbps dari suatu sumber suara akan mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan. Semua perhitungan yang dilakukan pada saat kita melakukan suatu kompresi pada gelombang suara didasarkan pada LPC (Linear Predictive Coding). Perhitungan pada LPC didasarkan pada encoder dan decoder yang digunakan saat proses kompresi itu sendiri berjalan. 



Pada dasarnya, secara lengkap LPC melakukan analisis sumber suara asli, waktu pada setiap pitch (pitch period), dan signal power. Analisis ini dilakukan di dalam encoder.



Melalui beberapa perhitungan yang digunakan di dalam LPC dengan memperhatikan beberapa hal yang dianalis pada saat mengencode suara, di dalam proses decode yang terjadi di dalam decoder adanya pemanfaatan sinyal GSM melalui kineja gelombang pulse train. Pulse train merupakan gelombang non – sinusoidal yang dalam hal ini biasa digunakan untuk pemrograman syntheized. 


Setelah melalui beberapa perhitungan yang juga terjadi di dalam proses decode ini nantinya akan menghasilkan synthesized speech. Untuk hasil kualitas suara yang di dapat, jika suara yang dihasilkan masih mengandung randim noise  lebih dari 30% hasil kompresei suara tersebut memiliki kualitas yang rendah.

Mind map digital speech coding:


Monday, September 23, 2013

DIGITAL LIFE IN UBIQUITOUS WORLD

Pembicara: Dito Respati / Head Office Mobile Application Developer Telkomsel

Indonesia merupakan negara yang memiliki angka perkembangan teknologi yang cukup tinggi, baik dari sisi pengetahuan teknologi itu sendiri maupun dari perkembangan dan penggunaan berbagai macam peralatan teknologi untuk menunjuang kebutuhan sehari – hari. Secara nyata kita dapat melihat dan mengamati perkembangan smartphone di Indonesia. Beberapa tahun lalu, diperkirakan pada tahun 2013, akan beredar jutaan merk smartphone lokal di Indonesia, dan kenyataannya 80% dari perkiraan tersebut saat ini sudah hampir terpenuhi. Banyaknya smartphone lokal yang beredar ini menjadi salah satu pangsa pasar yang cukup banyak dimanfaatkan oleh berbagai kalangan di Indonesia. Sebagai contoh, keberadaan smartphone yang menyediakan layanan internet  dengan mudahnya menjadikan smartphone sebagai media untuk berjual beli secara online. Tidak hanya dimanfaatkan untuk berbisnis, keberadaan smartphone ini juga banyak menjadi sasaran baru bagi para pengembang mobile aplikasi. Banyak developer – developer dan mobile market baru yang bermunculan memfasilitasi para pengembang aplikasi untuk menjual aplikasi yang dibuat oleh para pengembang. Tetapi sayangnya, keberadaan para developer – developer di Indonesia masih belum terasosiasi dengan baik.

Sebagai seorang mahasiswa Informatika, tanpa disadari sebenarnya banyak diantara kita yang sudah membuat berbagai macam aplikasi – aplikasi yang di-develop untuk para pengguna smartphone, baik untuk pemenuhan tugas kuliah maupun bagi mereka yang memang memiliki hobi di bidang developing. Oleh karena itu, sebaiknya kita mulai membuka diri dengan dunia luar untuk mengembangkan lebih luas kreativitas yang kita miliki. Mulai bekerja sama dan melirik market / store untuk para application developer yang dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan karya yang kita buat ke dunia luar. Contoh market lokal yang dapat kita jadikan sasaran untuk mengembangkan kreativitas yang kita miliki adalah TemanDev, yaitu developer mobile application yang berada dibawah Telkomsel.


IP Multimedia Subsystem

Melihat secara singkat dari perkembangan teknologi di Indonesia yang merupakan negara berkembang, seharusnya kita dapat membayangkan bagaimana perkembangan teknologi di dunia maju. Dalam perkembangan industri selular, kemajuan teknologi terjadi sangat pesat. Banyaknya kebutuhan manusia yang tidak akan pernah ada habisnya membuat para pengembang dan industri seluler berlomba – lomba untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Diciptakannya berbagai macam robot – robot canggih yang  dapat menggantikan kerja manusia, otomatisasi sistem kerja sebuah mesin dengan memanfaatkan penggunaan sensor – sensor yang mendukung merupakan gambaran mendatang dari teknologi yang akan semakin mempermudah dan membantu kerja manusia, di mana dalam hal ini kita memanfaatkan penggunaan IP Multimedia Subsystem.

IP Multimedia Subsystem merupakan penerapan teknologi yang mengarah pada konvergensi jarinan wireless dan wireline dengan memanfaatkan layanan multimedia yang berjalan di atas keduanya. Teknologi ini ada untuk mengakomodasi kedua tekonologi tersebut dengan layanan data yang tidak terbatas pada layanan suara, tetapi layanan data yang sangat beragam. IMS diciptakan untuk menjembatani operator telekomunikasi seperti (GSM/GPRS/EDGE, UMTS/3G) dengan teknologi internet. Secara garis besar, prinsip kerja jaringan IMS nantinya akan mengintegrasikan antara teknologi wireless dan wireline dengan berbagai layanan yang dapat ditangani, contohnya layanan data dan suara. Dengan adanya prinsip kerja IMS, memungkinkan terciptanya berbagai macam keseimbangan dan otomasisasi pada perkembangan kerja mesin di masa mendatang. Jarvis merupakan contoh IP Multimedia Subsystem.

Sumber:
·         Seminar Digital Life in Ubiuquitous World (IT Fest)
·         http://en.wikipedia.org/wiki/IP_Multimedia_Subsystem
·         http://klikcopas.blogspot.com/2011/10/pengertian-ip-multimedia-subsystem-ims.html